
"Bukan kemahalan, tapi sangat mahal. Jelas tidak bisa lah, ini kan pelayanan publik. Bahwa ada investasi, masa dirugikan mesti sama-sama untung," kata Chris di Teater Garuda Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Senin (25/3).
"Kita ditawarkan Rp600 juta sebulan, sedangkan itu mestinya setahun tidak sampai Rp600 juta," sambungnya.
"Itu [tarif] mesti dihitung, itu kan hanya untuk yang di bawah. Kalau menerapkan begitu kan tidak wajar, kita tidak akan pasang," ucapnya.
Hingga saat ini, masyarakat hanya bisa menikmati layanan seluler dari Telkomsel di sepanjang jalur MRT terutama di dalam terowongan.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menganjurkan agar pengguna layanan kereta MRT bisa mengakses jaringan telekomunikasi dari seluruh operator.
"Yang paling bagus yang ada semua (operator). Kalau nanti siapa yang memakai silakan bicara ke pasar. Kalau nanti operator tidak investasi di sana yaitu konsekuensi dari MRT tidak bisa menyediakan layanan masyarakat," kata Rudiantara, Senin (18/3).
Sebelumnya, Telkomsel menyebut telah memasang 48BTS di 13 stasiun yang dilewati MRT Jakarta. Pihak MRT Jakarta sendiri juga mengungkapkan kalau pengguna mengeluhkan buruknya sinyal telekomunikasi kereta saat melewati terowongan bawah tanah.
"Masyarakat awam termasuk seperti saya berharap bisa komunikasi di terowongan MRT atau stasiun-stasiun. Jadi tidak beda di Singapura, mereka sudah bisa," tuturnya. (din/age)
https://ift.tt/2FzZl4A
March 26, 2019 at 01:39AM from CNN Indonesia https://ift.tt/2FzZl4A
via IFTTT
No comments:
Post a Comment