
Pada Juli 2018 lalu, kedua perusahaan telah mengumumkan bahwa Boeing akan mengambil kendali atas bisnis manufaktur pesawat komersial Brasil, Embraer. Rencananya, Boeing akan mengambil alih 80 persen saham Embraer dengan nilai transaksi yang disepakati senilai US$5,2 miliar.
Namun, kesepakatan itu terhadang oleh pernyataan Bolsonaro yang mengindikasikan ketidaksetujuannya pada pekan lalu. Saat dilantik menjadi Presiden pada 1 Januari 2019, Bolsonaro mengindikasikan menentang langkah kedua perusahaan dengan menyatakan keprihatinan atas kesepakatan tersebut.
Seperti dikutip dari AFP, saham Embraer merosot setelah pernyataan negatif Bolsonaro. Namun Senin (7/1) lalu, pemerintahan Brasil mengatakan pihaknya tidak berpikir untuk mengganggu negosiasi bisnis itu.
Sentimen positif berlanjut pada Kamis (10/1), setelah sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh pihak kepresidenan mengungkapkan Bolsonaro merasa puas bahwa proposal bisnis final itu mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasional Brasil. Maka itu, ia tidak akan menggunakan hak veto untuk menghambat upaya merger.
"Hanya saja, divisi militer perusahaan brasil dikecualikan dari perjanjian," demikian pernyataan itu berbunyi seperti dikutip dari AFP, Jumat (11/1).
Pabrikan terbesar ketiga di dunia setelah Boeing dan Airbus Eropa itu diprivatisasi pada 1994. Saat itu, pemerintah Brasil mengambil keputusan strategis untuk mempertahankan hak veto dalam perusahaan penerbangan.
Sebuah pernyataan bersama dari kedua perusahaan mengatakan mereka menyambut baik persetujuan dari Pemerintah Brazil. kemitraan strategis ini dianggap akan memposisikan kedua perusahaan untuk mempercepat pertumbuhan di pasar kedirgantaraan global. (AFP/lav)
http://bit.ly/2FmcDmf
January 11, 2019 at 09:52PM from CNN Indonesia http://bit.ly/2FmcDmf
via IFTTT
No comments:
Post a Comment