
"Kegiatan macam ini tidak sesuai dengan tujuan penerbangan luar angkasa umat manusia," jelas administrator NASA Jim Bridenstine saat berbicara pada acara livestreaming di Youtube saat pertemuan dengan para pegawai NASA di Town Hall. "Hal ini tidak dapat diterima dan NASA perlu sangat menjelaskan mengenai dampaknya kepada kita."
India mengumumkan telah berhasil meluncurkan misi Shakti pada 27 Maret lalu. Ini adalah misi untuk menghancurkan satelit India yang tidak lagi terpakai dan masih ada di orbit. Keberhasilan misi ini membuat India menjadi negara keempat yang berhasil menyelesaikan misi tersebut setelah Amerika Serikat, Rusia, dan China.
Penghancuran satelit India disebutkan Bridenstine menghasilkan 400 puing dan NASA saat ini tengah melacak 60 puing diantaranya. Sebagian puing bahkan melesat di orbit yang ada di atas stasiun luar angkasa internasional (ISS). Sehingga berpotensi membahayakan stasiun itu dan kru yang ada di dalamnya jika terjadi tabrakan.
"Resiko di ISS naik 44 persen," tuturnya, seperti dikutip Cnet.
Namun, karena dilakukan di orbit bawah, maka penghancuran satelit yang dilakukan India tak separah akibat penghancuran oleh China. Pada 2007 China juga melakukan peluncuran misil anti satelit dan sisa puing satelit itu masih mengelilingi Bumi hingga saat ini.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri India dalam siaran pers menyatakan kalau tes itu dilakukan di atmosfer bagian bawah untuk memastikan tidak meninggalkan jejak serpihan di luar angkasa. Selain itu, sekalipun ada debu yang tersisa, maka sampah itu akan jatuh ke bumi dalam beberapa minggu. Namun, daerah yang masih menyisakan puing itu diperkirakan masih berbahaya.
"Menurut saya, klaim yang menyebut bahwa perusakan ini baik-baik saja karena sisa puing satelit akan segera terbakar adalah pernyataan yang menyesatkan," jelas Alice Gorman, arkeolog dan ahli puing luar angkasa Australia.
"Setiap adanya pecahan, baik yang disengaja ataupun tidak, meningkatkan resiko tabrakan dengan satelit yang masih berfungsi.Menurut Gorman, penghancuran satelit ini tidak memiliki tujuan ilmiah selain hanya untuk unjuk kekuatan. Sehingga, menurut Bridenstine aksi seperti ini tidak berkelanjutan dan tidak sejalan dengan misi penerbangan luar angkasa.
NASA saat ini memantau 23 ribu serpihan benda ruang angkasa yang melayang di orbit dengan besar lebih dari 10 sentimeter. Sepertiga dari debu ruang angkasa ini dibuat ketika China meledakkan satelit pada 2007 yang disusul dengan ledakan serupa yang dilakukan AS dan Rusia pada 2009, seperti disebutkan CNN.
https://ift.tt/2HURY9Y
April 03, 2019 at 07:16AM from CNN Indonesia https://ift.tt/2HURY9Y
via IFTTT
No comments:
Post a Comment